Minggu, 26 April 2009

Apa sih yang dimaksud wasilah itu..?

Pendahuluan.
Bila kita berbicara mengenai Wasilah tentunya dalam fikiran kita akan muncul beberapa istilah yang semakna dengan lafadz wasilah tersebut misalnya, tawassul, istisyfa', istighatsah, dll.
Para Ulama seperti al-Imam al-Hafidz taqiyyudin al-Subki menegaskan bahwasanya mereka mendefinisikan wasilah memiliki makna hakikat yang sama dengan tawassul, istisyfa', istighatsah, dll. Dengan definisi sebagi berikut :
طلب حصول منفعة أو اندفاع مضرة من الله بذكر اسم نبي أو ولي إكراما للمتوسل به (الحافط العبدري, الشرح الريم, ص 378)
"Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan)kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi dan wali untuk memuliakan (ikhram) keduanya".
Sebagian kalangan memiliki persepsi bahwa wasilah seperti yang terdapat pada ta'rif diatas, yaitu mengunakan nabi atau wali sebagai wasilah (perantara) untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki. Persepsi yang keliru tentang wasilah ini kemudian mereka gunakan sebai argument menuduh kafir atau musrik orang-orang yang bertawassul atau yang berwasilah.[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm4-5]
Padahal hakikat tawassul dikalangan para pelakunya bukanlah demikian melainkan memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya dari bahaya (keburukan) dengan cara mengunakan wasilah (perantara) seorang nabi atau wali dengan cara menyebut nama nabi atau wali tersebut untuk memuliakannya sebagai seorang hamba yang dicintai oleh Allah.
Berdasarkan dari perbedaan Pemahaman tersebut di sini penulis mencoba meluruskan pemahaman yang kurang benar mengenai wasilah, dan berikut beserta tafsir ayat-ayat yang digunakan sebagai argument dari wasilah dan lafadz lain yang semakna dengan wasilah.

B. Penafsiran Surah al-Maidah ayat 35

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanyaNya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Melalui ayat ini Allah mengajak semua pihak yang beriman bahkan boleh jadi lebih dikhususkan kepada para pelaku kejahatan yang dibicarakan oleh ayat yang sebelumnya agar mereka bertaqwa dan mencari jalan mendekatkan diri kepadaNya.
Kata وسيلةwasilah mirip maknanya dengan وصيلة washilah yakni "sesuatu yang menyambung sesuatu dengan yang lain". Sedangkan wasilah adalah "sesuatu yang menyambung dan mendekatkan sesuatu dengan yang lain, atas dasar keinginan yang kuat untuk mendekat". Tentu saja banyak cara yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada ridha Allah[ Ayat ini (dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya). Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artinya carilah sebab-sebab itu maka Allah akan mewujudkan akibatnya. Namun harus di ketahui bahwa jalan tersebut haruslah yang disukai oleh Allah SWT. Mahrus Ali, Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm 4-5 ], namun kesemua haruslah yang dibenarkan oleh-Nya. Ini bermula dari rasa kebutuhan kepadaNya. Demikian Ibn Abbas menafsirkan memang jika sesorang merasakan kebutuhan kepada sesuatu, dia akan menempuh segala cara untuk meraih ridhonya serta menyenangkannya. Demikian juga seharusnya bila kita ingin dekat kepada Allah SWT.
Dalam satu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW bersabda : "sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali-Ku ( orang yang dekat dengan-Ku) maka sesungguhya Aku telah menyatakan perang baginya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku senangi dari pada melaksanakan apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan tidak pula hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku mencintainya menjadilah Aku telinganya dan ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang dengannya ia menghajar, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Apabila ia bermohon kepada-Ku maka pasti Ku-kabulkan pemohonannya, apabila ia meminta perlindungan-Ku maka pasti ia Ku-lindungi".[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 114]
Ayat ini dijadikan oleh sebagian ulama' sebagi dalil dari diperbolehkanya tawassul yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama Nabi SAW. atau para wali/orang-orang yang dekat kepada-Nya, yakni berdo'a kepada Allah guna meraih harapan melalui kecintaan Allah kepada kekasih-kekasihnya para Nabi atau para wali. Orang-orang yang menganggap musrik dan mengkafirkan orang-orang yang bertawassul. Tentu saja bila dia percaya bahwa sang wali memberinya apa yang tidak diizinkan Allah atau apa yang tidak wajar diperolehnya, maka hal ini terlarang. Tetapi jika ia bermohon kepada Allah berdasarkan oleh kecintaannya kepada siapa yang ia yakini lebih dekat kepada Allah dari dirinya, maka ketika itu cintanyalah yang berperanan bermohon, dan dalam saat yang sama dia yakin tidak akan memperoleh dari Allah sesuatu yang tidak wajar diperolehnya.
Mutawalli asy-Sya'rawi, ulama Mesir kontemporer telah menjelaskan perihal wasilah atau tawassul dengan mengemukakan satu riwayat yang juga sering dikemukakan oleh ulama' yang membenarkan wasilah atau tawassul. Riwayat yang dimaksud dikemukakan oleh Imam Muslm, Abu Dawd, at-Tirmidzi, dan an Anas'i bahwa Umar ibnu al-Khattahb berkata: " pada masa Nabi SAW., jika kami kekeringan karena hujan tidak turun, kami bertawasul dengan ( menyebut nama) nabi kiranya hujan turun. Setelah Nabi Saw wafat kami bertawassul dengan menyebut nama al-Abbas, paman Nabi SAW."

C. Penafsiran Surah al-Isra' ayat 57

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka* siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
* Maksudnya: nabi Isa a.s., para malaikat dan 'Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.[ Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0]
Lafadz ( orang-orang yang mereka seru) yang dimaksud lafadz ini yakni orang-orang yang berakal yang menyangka bahwa diri mereka dekat dengan Tuhan mereka, dengan mencari kedekatan dengan sebab ketaatan mereka dan merendahkan diri kepada tuhanya dan mengharap rahmat Allah dan takut kepada sikisa Allah, tetapi sesungguhnya orang-orang yang lebih dekat diantara mereka adalah orang yang lebih merendahkan diri dan takut kepada Allah dan mereka tidak ridha dengan keadaan mereka sebagai hamba dari selain Allah.[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325]
Lafadz yang artinya mencari yang dimaksudkan dalam lafadz ini adalah mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan cara taat.[ Ibid. hlm: 326]
Siapa-siapa yang mereka seru untuk mencari pertolongan dan yang mereka sembah itu (seperti malaikat) Isaa, Uzair dan lain-lain, mereka itu sendiri dengan sungguh-sungguh mencari jalan menuju ke ridha Tuhan mereka berupaya agar menjadi lebih dekat kepada Allah dan mereka semua juga selalu mengharapkan Rahmat-Nya dan senantiasa takut akan siksa-Nya sesungguhya siksa tuhanmu adalah sesuatu yang harus diwaspadai karena demikian itulah sikap hamba-hamba-Nya yang dekat apalagi kamu- wahai yang bergelimang dalam kedurhakaan.[ M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan kesan dan keserasianal-Quran (Jakarta: Lentera Hati) hlm 18]
Firman-Nya : ayyuhum aqrabu, dapat juga di pahami dalam arti masing-masing hendak mengetahui jawaban "siapakah di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah." Atau mereka melakukan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah . Dan karena itu mereka mempertanyakan jalan manakah yang terdekat agar mwereka dapat menmpuh jalan itu guna meraih kedekatan kepada Allah.[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325]
Apapun pendapat yang anda pilih, yang jelas ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang dipertuhankan itu, tidak wajar dipertuhan karena mereka juga butuh kepada Allah lagi tidak dapat melepaskan diri darinya. Bahkan berlomba mendekatkan diri kepadanya. Memang boleh jadi mereka dapat melakukan sesuatu, tetapi kemampuan itu mereka peroleh dari Allah SWT.
Sebagai seorang muslim yang memiliki keimanan yang kuat janganlah berasumsi bahwa kaum muslimin pun seringkali berdo'a kepada Allah, tetapi tidak dikabulakan do'anya, sehingga dengan demikian keadaan mereka sama saja dengan keadaan orang-orang kafir itu. Untuk menjawab pertanyaan semacam ini terlebih dahulu perlu diketahui bahwa tidak ditemukan pernyataan dari tuhan-tuhan yang mereka sembah itu, bahwa mereka menjamin pengabulam do'a siapa yang menyembahnya, para penyembahnya pun sadar tentang hal ini, terbukti jika mereka dalam kesulitan, mereka memohon kepada Allah SWT. Bukan kepada siapa yang mereka sembah itu antara lain, sebagaiman yang telah tercantum dalam ayat 67 berikut ini.

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.[ Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0]
Ini berbeda dengan yang berdo'a kepada Allah SWT. Berkali-kali Allah menjamin pengabulan Do'anya. Selanjutnya perlu di inggat bahwa pengabulan do'a yang dijamin itu mempunyai syarat-syarat tertentu yang bila tidak terpenuhi maka do'a itu tifdak akan terkabul seperti ditegaskan dalam firmanya :[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm5-7]


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa ada orang yang merasa telah berdo'a, tetapi Allah belum menilainya sebagai suatu do'a, untuk jelasnya merujuk kepada penafsiran ayat dari surah al-Baqarah itu !. di sisi lain, pengabulan do'a berkaitan juga dengan kemaslahatan si pemohon, sehingga boleh jadi apa yang dimohonkan di tunda pengabulanyaatau dig anti dengan yang lain yang lebih bermanfaat untuk si pemohon.[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm 7]

E. Pembahasan Mengenai Wasilah.
Dalam kamus al Munjid menyebutkan: اَلْوَسِيْلَةُ ماَ يَتَقَرَّبُ اِلىَ الْغَيْرِ
Wasilah menurut bahasa ialah sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain
Dalam kamus: اَلْوَسِيْلَةُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ الْمُلْكِ
Wasilah suatu kedudukan di sisi raja
Ibnu Kasir dalam menafsirkan surat al Maidah ayat 35 menyebutkan,
اَلْوَسِيْلَةُ هِيَ الَّتِى يَتَوَصَّلُ بِهَا اِلَى تَحْصِيْلُ الْمَقْصُوْدِ
Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan kepada tercapainya tujuannya.
Menurut satu riwayat dari Ibnu Abbas, arti wasilah di sana adalah hajat kepada-Nya. Jadi maknanya adalah carilah hajat kepada Allah.[ Prof. DR. H. Kadirun Yahya menafsirkan surat al Maidah ayat 35 bahwa, Wasilah itu adalah channel dan frekuensi yang membawa mereka yang beriman dan takwa tersebut di atas langsung ke hadirat Allah Swt, dan jika mereka bersungguh-sungguh di atas jalan itu mereka akan menang dunia akhirat. http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/

]
Dalam tafsir Futuhul Ilahiah disebutkan bahwa wasilah adalah : Sesuatu yang mendekatkan kamu kepada-Nya, dengan mentaati-Nya.[ Dari keterangan tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa, wasilah itu adalah suatu jalan / cara yang harus kita tempuh agar kita dapat bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah Swt. http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/
]
Dalam ayat tadi kita disuruh mencari sesuatu. Yang namanya mencari sesuatu, pasti sesuatu itu sudah ada. Kita disuruh mencari agar kita dapat menemukan sesuatu yang sudah ada. Sesuatu yang sudah ada itulah yang dapat menjadi saluran amal kita hingga sampai kehadirat Allah Swt.
Menurut Prof. DR. Kadirun Yahya dalam beberapa penjelasan beliau, bahwa wasilah itu bukan orang, bukan ruh tapi sesuatu (QS. al Maidah : 35), yang ada pada Arwahul muqaddasah Rasulullah Saw, yang datang dan tersalur langsung dari Allah Swt. Inilah yang mempunyai dimensi, power, kekuatan tak terhingga (∽). Inilah yang memberi kekuatan dan berbekas langsung kepada amal-amal shalihat kita. Inilah yang dinamakan channel dan frekwensi yang tak terhingga, yang langsung menuju kehadirat Allah Swt, yang dimensinya tak terhingga itu. Keberadaan Nabi Muhammad dan Khalifah-Khalifahnya merupakan anugerah atau rahmat dan penyelamat bagi orang-orang sedunia. Beliau adalah wasilah untuk itu.
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Dan tidak Kami utus engkau wahai Muhammad, kecuali pembawa rahmat bagi alam semesta.
Dan tidak engkau yang melontar ketika engkau melontar, tapi Allahlah yang melontar. (QS. al Anfal : 17)
Maka Rasulullah adalah sebagai wasilah carrier, pembawa wasilah yang menyalurkan rahmat bagi alam semesta, yang menyalurkan lontaran untuk menghantam kuffar Quraisy dalam peperangan Khandaq. Yang punya rahmat dan yang melakukan lontaran sesungguhnya adalah Allah Swt. Yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan dilakukan oleh Rasulullah Saw, yaitu menyebar rahmat dan melakukan lontaran adalah bersifat Nisbi, tapi yang hakikinya adalah Allah Swt. Inilah yang dimaksud dengan datang dan tersalur langsung dari Allah Swt.
3. Macam-Macam Wasilah
a. Wasilah yang dilarang
Adapun wasilah yang dilarang adalah berwasilah dengan berhala atau patung-patung seperti yang dilakukan oleh orang kafir musyrik, sebagaimana yang termaktub dalam surat az Zumar ayat 3.[ Menurut asbabun nuzul, ayat ini berkenaan dengan tiga suku bangsawan; Amir, Kinanah dan Bani Salamah yang menyembah berhala, yang mereka mengatakan bahwa persembahan terhadap berhala itu adalah untuk menghampirkan diri kepada Allah Swt. Kenyataannya mereka benar-benar menyembah berhala, yang mereka yakini berhala itu dapat memberikan manfaat dan ataupun mudarat. Karena itu Allah tegaskan di akhir ayat, bahwa perkataan mereka itu adalah perkataan bohong lagi kafir, Allah Swt tidak akan memberikan hidayah kepadanya.
]
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah yang sedekat-dekatnya.
Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. az Zumar : 3)

Orang-orang yang berpendapat tidak boleh berwasilah adalah mengikuti jalan pikiran Ibnu Taimiyah dengan memakai dalil surat az Zumar ayat 3 ini. Jalan pikiran Ibnu Taimiyah ini diambil over para orientalis, kemudian ditulis dalam bahasa Arab dan tulisan-tulisan itu disebarluaskan ke Jaziratul Arab, untuk selanjutnya dari Jaziratul Arab disebarluaskan ke negara-negara Islam lainnya. Jalan pikiran Ibnu Taimiyah dan orientalis inilah akhirnya mempengaruhi pendapat Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Dinasti Wahabi 500 tahun kemudian. Dinasti Wahabi-lah yang menghancurkan rumah-rumah suluk di Jabal Qubis dan tempat-tempat lainnya dan menganggap syirik orang-orang yang berziarah ke kuburan Nabi Saw dan kuburan wali-wali, dengan berseru atau memanggil “Wahai Rasulullah Saw, kami mohon syafaatmu.”[ Buku-buku Wahabiyah inilah yang banyak berkembang ke negara-negara Islam / rakyatnya sebagian besar beragama Islam termasuk ke Indonesia, yang dampaknya sangat berpengaruh kepada jalan pikiran orang-orang Islam. Saudara kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab, bernama Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, menolak pendapat pemimpin golongan Wahabi itu, dengan menerbitkan sebuah kitab berjudul ash Showa’iku al Ilahiyah fi al Rodi ‘ala al Wahabiyah. http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/

]
Selain dari dua tokoh ulama itu, masih banyak lagi ulama terkemuka lainnya dari empat mazhab yang menyangkal pendapat Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tersebut, dan bahkan ada yang menganggap Ibnu Taimiyah berpengetahuan dalam, tetapi berakal pendek, sesat dan menyesatkan orang banyak. Sayyid Zaini Dahan, Mufti Mazhab Syafi’i di Mekkah, dalam kitabnya, Kholasoh al kalami fi bayani umaro’il baladi al haromi dengan tegas mengecam dan menolak keras pendapat golongan Wahabi tersebut, dengan mengemukakan dalil dan alasan, ayat, hadits, pendapat ulama salaf dan ulama khalaf, dan pendapat imam mazhab yang empat.
b. Wasilah yang diperbolehkan
Wasilah yang disyaratkan adalah semua bentuk wasilah yang disunatkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya serta dianjurkan supaya kita mengamalkannya.
1. Di dalam al Qur’anul Karim terdapat beberapa ayat yang menyuruh kita berwasilah, antara lain: dalam surat al A’raf : 88-89; 155-156 dan 180, surat Ibrahim : 38-41, surat as Syuara : 75-85
2. Al Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya, Dalail al Nubuwah pada waktu menafsirkan surat al Baqarah ayat 37
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al Baqarah : 37)
Bahwa Adam pun sebagai bapak manusia berwasilah kepada Nabi Muhammad Saw sebelum lahir, untuk diterima taubatnya, karena ia telah melanggar perintah Allah yaitu supaya tidak memakan buah khuldi sewaktu ia dengan istrinya berada di surga. Karena melanggar larangan itulah mereka dikeluarkan dari surga. Ia mengakui segala kesalahannya di hadapan Allah.
لَمَّا اقْتَرَفَ اَدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ يَا رَبِّ أَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ اِلاَّ غَفَرْتَ لِى فَقَالَ الله ُتَعَالَى يَا اَدَمَ كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ اَخْلُقْهُ قَالَ يَا رَبِّ لَمَّا خَلَقْتَنِى رَفَعْتُ رَأْسِى فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوْباً لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَعْلِمْتُ اَنَّكَ لَمْ تَضِفْ اِلَى اَسْمَائِكَ اِلاَّ اَحَبُّ الْخَلْقِ اِلَيْكَ فَقَالَ الله ُتَعَالَى صَدَقْتَ يَا اَدَمَ اِنَّهُ َلاَحَبُّ الْخَلْقِ اِلَيَّ وَاِذَا سَئَلْتَنِى بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلاَ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتَكَ فَهُوَ اَخِرُ اْلاَنْبِيَاءِ مِنْ ذُرِيَتِكَ
Tatkala nabi Adam mengakui kesalahannya, dia berkata “Wahai Tuhan, saya mohon kepada-Mu bihaqqi (dengan kebenaran) Muhammad Saw, ampunilah dosaku!.” Allah berfirman, “Adam, bagaimana mungkin anda mengenal Muhammad, padahal ia belum Ku-jadikan?” Adam menjawab, “Wahai Tuhan, sesungguhnya tatkala Engkau menciptakan aku, kuangkat kepalaku, maka kulihat di atas tiang-tiang Arasy bertulis لا اله الا الله محمد رسول الله mengertilah aku bahwa Engkau tidak menyandarkan sesuatu kepada nama-Mu, melainkan orang yang paling dikasihi makhluk.” Allah pun berfirman pula, “Benar anda Adam, sesungguhnya Muhammad Saw itu paling kasih sayang kepada-Ku. Apabila anda memohon dengan berkat kebenarannya, maka sesungguhnya Ku-ampuni dosamu. Dan kalaulah tidak karena Muhammad, tidaklah Ku-jadikan anda dan dia adalah nabi yang terakhir dari keturunanmu.” (HR. al Baihaqi, al Hakim dan at Thabrani)

3. Imam Malik bin Anas menyuruh kepada khalifah al Mansur agar memakai wasilah yang benar, yaitu ketika al Mansur mengerjakan haji dan menziarahi kuburan Nabi di Madinah. Al Mansur bertanya kepada Imam Malik yang kebetulan berada dalam masjid Nabawi itu, “Ke mana harus menghadap bila berdo’a, apakah menghadap kiblat atau menghadap kuburan Nabi Saw? “Imam Malik menjawab, “Kenapa anda memalingkan wajah anda daripadanya? Dialah wasilahmu dan dia pulalah wasilah bapakmu Adam kepada Allah Swt. Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaatnya, niscaya beliau akan mensyafaatimu.” Masalah ini dikuatkan dengan maksud surat an Nisa’ ayat 64.
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

4. Umar bin Khattab pada masanya pada waktu minta diturunkan hujan, ia berwasilah kepada Abbas bin Abdul Muthallib paman Rasulullah, kemudian Do’a Sayyidina Umar dikabulkan oleh Allah. Setelah selesai berdo’a, Umar berkata:Wahai umat manusia, Rasulullah Saw menganggap Abbas sebagai anak terhadap bapak. Maka ikutilah Beliau dalam hal pamannya Abbas. Dan jadikanlah ia (Abbas) wasilah kepada Allah Swt.

Sesungguhnya masih banyak lagi dalil-dalil al Qur’an maupun al Hadits ataupun perbuatan para sahabat yang melaksanakan amalan, do’a dengan berwasilah. Perbuatan dan ucapan para sahabat, khulafaurrosyidin menjadi hujjah dalam masalah hukum agama dan keagamaan. Sabda Rasulullah Saw:
اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ فَاِنَّهُمَا حَبْلُ اللهِ الْمَمْدُوْدُ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِمَا فَقَدْ تَمَسَّكَ بِالْعَرْوَةِ الْوثْقَى لانْفِصَامَ لَهَا
Ikutilah oleh kamu dua orang sesudahku Abu Bakar dan Umar. Sesungguhnya kedua orang tersebut adalah tali Allah yang dipanjangkan. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, niscaya dia berpegang teguh kepada tali yang kuat yang tidak akan terputus. (HR. Thabrani)
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ
Hendaklah kamu ikuti sunahku dan sunah khulafaurrosyidin yang selalu mendapat hidayah dari Allah. (al Hadits)

Sikap Sayyidina Umar berwasilah kepada Sayyidina Abbas untuk meminta hujan, tidak kepada Nabi Saw adalah untuk menegaskan kepada umat bahwa berwasilah kepada selain Nabi Saw hukumnya boleh dan disyaratkan tiada cacat cela padanya. Jika Sayyidina Umar berwasilah kepada Nabi Saw, tentu orang banyak akan berpendapat tidak boleh berwasilah kepada selain Nabi Saw. Sedangkan berwasilah kepada Nabi Saw waktu itu sudah dikenal dan umum
4. Burraq Adalah Wasilah Menuju Tuhan
“Orang sering kali dibodoh-bodohi oleh orang Yahudi yang menggambarkan Burraq seperti kuda” kata Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi (Mursyid Thareqat Naqsyabandiah Al-Kalidiah Aminiah Ahli Silsilah ke-36,) bahwa gambaran Burraq nabi yang dikendarai Beliau ketika berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit tujuh adalah berwujud binatang seperti kuda tapi lebih kecil, berkepala manusia kecepatannya satu langkah bisa menempuh jarak sejauh mata memandang. Kemudian gambaran nabi itu dibentuk ke dalam gambar realistis, yang dipajang di dinding. Anak-anak orang awam menangkap kesan seperti gambaran binatang tersebut.
Kalau itu di tuju, oleh ayat dan surat al Isra’, maka terbentuk kesan bahwa hanya nabi saja yang mampu mengadakan perjalanan cepat di muka bumi dan naik ke langit dalam tempo cepat secepat kilat. Dan al Qur’an tersebut hanya menjadi cerita belaka, bukanlah sebagai hidayah bagi seluruh umat manusia, itu bila mana ayat al Qur’an hanya dipahami dari segi harfiahnya saja.[ http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/
]













F. Kesimpulan
Berdo’a dengan mengunakan wasilah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas telah disepakati mayoritas ulama bahwa telah disepakati kebolehannya. Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, nyatanya tetap memohon kepada Allah SWT karena Allah-lah tempat meminta dan harus diyakini bahwa sesungguhnya:[ http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9992
]
مَنَعْتَ لمِاَ مُعْطِى وَلاَ اَعْطَيْتَ لمالاَمَانَعَ
Tidak ada yang bisa mencegah terhadap apa yang Engkau (Allah) berikan, dan tidak ada yang bisa memberi sesuatu apabila Engkau (Allah) mencegahnya.
Secara psikologis wasilah / tawassul sangat membantu manusia dalam berdoa, bertawassul sama dengan meminta orang-orang yang dekat kepada Allah SWT itu agar mereka ikut memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita minta.
Tidak ada unsur-unsur syirik dalam bertawassul, karena pada saat bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para Nabi, para Rasul dan para shalihin, pada hakekatnya kita tidak bertawassul dengan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka yang shaleh.
Karenanya, tidak mungkin kita bertawassul dengan orang-orang yang ahli ma’siat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawassul dengan pohon, batu, gunung dan lain-lain.






Daftar Pustaka
Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325
http://ingkang-bangete-bodho.blog.friendster.com/2007/08/
http://muba-blogger.blogspot.com/2009/04/memaknai-pengobatan-ala-ponari.html
http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9992
M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan kesan dan keserasianal-Quran (Jakarta: Lentera Hati)
Ridwan, Muhammad Asnawi, Membela Sunni (Kendal: Pustaka Amanah) th 2008
Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0
Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008

Rabu, 22 April 2009

Kritik Matan Hadits


Kritik Matan Hadits

I. Pendahuluan

Tidak perlu diragukan bahwa hadis merupakan sumber ajaran Islam di samping al-Qur'an. Mengingat begitu pentingnya hadis, maka studi atau kajian terhadap hadis akan terus dilakukan, bukan saja oleh umat Islam, tetapi oleh siapapun yang berkepentingan terhadapnya.

Berbeda dengan ayat-ayat al-Qur'an yang semuanya dapat diterima, hadis tidak semuanya dapat dijadikan sebagai acuan atau hujah. Hadis ada yang dapat dipakai ada yang tidak. Di sinilah letak perlunya meneliti hadis. Agar dapat meneliti hadis secara baik diperlukan antara lain pengetahuan tentang kaidah dan atau metodenya.

Atas dasar itulah, para ulama khususnya yang menekuni hadis telah berusaha merumuskan kaidah dan atau metode dalam studi hadis.[1] Buah dari pengabdian dan kerja keras mereka telah menghasilkan kaidah dan berbagai metode yang sangat bagus dalam studi hadis, terutama untuk meneliti para periwayat yang menjadi mata rantai dalam periwayatan hadis (sanad). Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk studi sanad ini, secara metodologis sudah relatif mapan yang ditunjang dengan perangkat pendukungnya. Apalagi pada zaman sekarang, dengan memanfaatkan teknologi komputer, studi sanad hadis dapat dilakukan secara sangat efisien dan lebih akurat dengan kemampuan mengakses referensi yang jauh lebih banyak.

Sementara itu, untuk studi matan atau teks hadis yang di dalamnya memuat informasi-informasi dari atau tentang Nabi Muhammad saw., secara metodologis masih jauh tertinggal. Karena itulah, hendaknya terus dilakukan upaya untuk megembangkan atau merumuskan kaidah dan metode untuk studi matan hadis.

A. Pengertian Kritik Matan

Yang disebut dengan matan hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh beberapa sanad, baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw., sahabat, ataupun tabi'in; baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi.[2]

Dalam literatur Arab kata “an-naqd” dipakai untuk arti “kritik” atau “memisahkan yang baik dari yang buruk. Kata “kritik”[3] berasal dari bahasa Yunani krites yang artinya “seorang hakim, krinein berarti “menghakimi”, kriterion berarti “dasar penghakiman”[4]. Dalam konteks tulisan ini kata “kritik” dipakai untuk menunjuk kepada kata an-naqd dalam studi hadis.[5]

Dari arti kebahasaan tersebut, kata "Kritik" bisa diartikan upaya membedakan antara yang benar (asli) dan yang salah (palsu) .Kata “an-naqd” ini telah digunakan oleh beberapa ulama hadis sejak awal abad kedua Hijriah, hanya saja istilah ini belum populer di kalangan mereka.

Berdasarkan pada perumusan definisi kritik hadits di atas hakikatnya kritik hadits bukan digunakan untuk menilai salah atau membuktikan ketidak benaran sabda Rasulullah Saw, karena otoritas nubuwwah dan penerimaan mandat risalah dijamin terhindar dari salah berkata atau melanggar norma.[6]

Sedangkan sebagai disiplin Ilmu Kritik hadits adalah:

الحكم على الرواة تجريحا وتعديلا بألفاظ خاصة دات دلائل معلمه عند اهله والنظر متنون الاحادث التى صح سندها لتصحيحها او تضيفها ولرفع الاشكال عما بدا مشكل من صحيحها ودفع التعارض بينها بتطبيق مقاييس دقيقه

Penetapan status cacat atau adil pada perawi hadits dengan mengunakan idiom khusus berdasarkan bukti-bukti yang mudah diketahui oleh ahlinya, dan mencermati matam-matan hadits sepanjang sahih sanadnya untuk tujuan mengakui validitas atau menilai lemah dan upayta menyingkap kemuskilan pada matan hadits yang shahih serta mengatasi gejala kontradiksi antar matan dengan mengaplikasikan tolok ukur yang detail.[7]

B. Kegelisahan Akademik Tentang Kritik Matan

Dari pengertian kata atau istilah kritik di atas, dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan kritik matan hadis (naqd al-matn) dalam konteks ini ialah usaha untuk menyeleksi matan-matan hadis sehingga dapat ditentukan antara matan-matan hadis yang sahih atau lebih kuat dan yang tidak.

Kesahihan yang berhasil diseleksi dalam kegiatan kritik matan tahap pertama ini baru pada tahap menyatakan kesahihan matan menurut eksistensinya. Pada tahap ini belum sampai pada pemaknaan matan hadis, kendatipun unsur-unsur interpretasi matan boleh jadi ada terutama jika menyeleksi matan dengan cara melihat tolok ukur kesahihan matan hadis.[8]

Bila terdapat matan-matan hadis yang sangat rumit dikritik atau diseleksi berkaitan dengan pemaknaannya, maka hal tersebut “diserahkan” kepada studi matan hadis tahap kedua yang menangani interpretasi atau pemaknaan matan hadis (ma’na al-hadits).[9]

Kritik hadits yang dilakukan para ahli hadits tidak hanya terbatas pada sanad, seperti anggapan sebagian orang. Kritik juga meluas pada matan dan makna hadits. Hal ini sudah dimulai sejak masa sahabat dan tumbuh berkembang pada era berikutnya.

Karena jumlah periwayat yang tidak dapat dipercaya riwayatnya semakin bertambah banyak. Perhatian ulama untuk meneliti matan dan sanad hadis makin bertambah besar dan mereka pun merumuskan kaidah dan cara untuk melakukan kritik atau seleksi hadis.

Misalnya saja, untuk menyeleksi hadis-hadis yang sahih dan yang maudu' para pakar hadis menetapkan ciri-ciri hadits maudu’ sebagai tolok ukurnya, begitu juga dalam hadis palsu ulama hadits telah menetapkan tanda-tanda matan hadis yang palsu[10].

Sedangkan kajian terhadap masalah-masalah yang menyangkut matan disebut naqd al-matan (kritik matan) atau kritik intern. Disebut demikian karena yang dibahasnya adalah materi hadis itu sendiri, yakni perkataan, perbuatan atau ketetapan Rasulullah SAW. Pokok pembahasannyameliputi:

1. Rakhakhah al-lafz yakni kejanggalan-kejanggalan dari segi redaksi

2. Fasad al-ma'na, yakni terdapat cacat atau kejanggalan pada makna hadis karena bertentangan dengan al-hiss (indera) dan akal, bertentangan dengan nash Al-Qur' an, dan bertentangan dengan fakta sejarah yang terjadi pada masa Nabi SAW serta mencerminkan fanatisme golongan yang berlebihan

3. kata-kata gharib (asing), yakni kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal.

C. Para Generasi (sahabat, Tabi'in) dalam Kritik Hadits

1. Pada Masa Sahabat

Secara historis, sesungguhnya kritik atau seleksi (matan) hadis dalam arti upaya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah telah ada dan dimulai pada masa Nabi masih hidup meskipun dalam bentuk yang sederhana. Praktik penyelidikan atau pembuktian untuk meneliti hadis Nabi pada masa itu tercermin dari kegiatan para sahabat pergi menemui atau merujuk kepada Nabi untuk membuktikan apakah sesuatu benar-benar telah dikatakan oleh beliau. Praktik tersebut antara lain pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Umar bin Khattab, Zainab istri Ibn Mas’ud dan lain-lain.[11]

Pada periode sahabat menurut pengamatan Al-Hakim (w. 405 h. )dan al-Dzahabi (w. 748 h) adalah Abu Bakar al-Shiddiq (w. 13 h) sebagai tokoh perintis pemberlakuan uji kebenara pemberlakuan hadits.[12] Motif utama penerapan kritik hadits adalah dalam rangka melindungi agar tidak terjadi kedustaan dengan mengatasnamakan Rasulullah Saw. Motif seperti itu terungkap pada pernyataan Umar Ibn Khatab kepada Abu Musa al-Az'ari: "Saya sesungguhnya tidak mencurigai kamu, akan tetapi saya khawatir orang (dengan seenaknya) memperkatakan sesuatu atas nama Rasulullah Saw.[13]

Kaidah Kritik lebih tertuju pada uji kebenaran bahwa Rasulullah benar-benar menginformasikan hadits tersebut. Namun apabila ada seorang sahabat yang meriwayatkan hadits dengan kalimat yang berbeda namun semakna (Syahid al-Hadits) maka cara yang dilakukan cukup meminta agar sahabat periwayat hadits berhasil mendatangkan sahabat lain (sebagai riwayat pendukung) yang memberikan kebenaran atas hadits Nabawi yang ia beritakan. Langkah metodologis tersebut berkesan seakan akan kalangan sahabat tidak bersedia menerima informasi hadits kecuali dibuktikan minimal oleh dua orang yang sama-sama menerima hadits tersebut dari Rasulullah Saw.[14]

Tradisi kritik Matan di lingkungan sahabat selain menerapkan kaidah muqaranah[15] berlaku juga metode Mu'aradhah[16], namun pengunaan metode Mu'aradhah pada periode sahabat belum sepesat periode Tabi'in.[17]Langkah pencocokan dalam metode Mu'aradhah dengan petunjuk eksplisit dari al-Quran (Zhahir al-Quran), pengetahuan kesejarahan (sirah Nabawiah) dan dengan penalaran akal sehat.

Uji kecocokan hadits dengan petunjuk eksplisit al-Quran misalnya pengakuan pribadi Fatimah binti Qais al-Quraisiah bahwa ketika dirinya dinyatakan jatuh thalaq ba'in oleh suaminya. Rasulullah Saw Tidak memberikan fasilitas nafakah maupun kediaman atas beban suaminya, selama menjalani masa 'iddah (HR. Muslim dan Abu Dawud)[18]. Khalifah Umar bin Khatab menolak pengakuan tersebut yang di asosiasikan kepada Nabi Saw karena menurut keyakinan pribadinya informasi hadits tersebut bertentangan dengan petunjuk eksplisit al-Quran seperti terbaca pada surah at-Thalaq ayat 6.

£`èdqãZÅ3ór& ô`ÏB ß]øym OçGYs3y `ÏiB öNä.Ï÷`ãr Ÿwur £`èdr!$ŸÒè? (#qà)ÍhŠŸÒçGÏ9 £`ÍköŽn=tã 4 bÎ)ur £`ä. ÏM»s9'ré& 9@÷Hxq (#qà)ÏÿRr'sù £`ÍköŽn=tã 4Ó®Lym z`÷èŸÒtƒ £`ßgn=÷Hxq 4 ÷bÎ*sù z`÷è|Êör& ö/ä3s9 £`èdqè?$t«sù £`èduqã_é& ( (#rãÏJs?ù&ur /ä3uZ÷t/ 7$rã÷èoÿÏ3 ( bÎ)ur ÷Län÷Ž| $yès? ßìÅÊ÷ŽäI|¡sù ÿ¼ã&s! 3t÷zé& ÇÏÈ

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.

Ketika dilakukan verifikasi data pada subjek Fatimah binti Qais ternyata yang bersangkutan bermula mohon perkenaan Nabi untuk tidak tinggal di rumah keluarga suami selama menjalani masa iddah dengan pertimbangan di lokasi perkampungan mantan suami banyak berkeliaran binatang buas. Seperti terungkap pada koleksi al-Bhukari, Ibnu Majah serta Abu Dawud. Jadi pengakuan Fatimah binti Qais itu dari persepsi pribadinya bahwa persetujuan Nabi Saw tidak mengisyaratkan adanya fasilitas nafaqah dan tempat tinggal selama masa 'iddah pasca thalaq ba'in menimpanya.[19]

2. Periode Tabi'in

Pada periode pasca sahabat, mulai ditandai dengan penyebaran hadis yang semakin banyak dan meluas, dan banyak bermunculan (matan-matan)} hadis palsu (maudu’). Menanggapi keadaan seperti itu, bangkitlah para ulama untuk melakukan kritik atau seleksi guna menentukan hadis-hadis yang benar-benar berasal dari Nabi.[20]

Integritas keagamaan pembawa berita hadits mulai diteliti sejak terjadi fitnah, yakni peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berlanjut dengan kejadian-kejadianlain sesudahnya. Fitnah tersebut melahirkan berbagai pertentangan yang tajam di antara umat Islam, sehingga keutuhan umat islam menjadi terpecah. Pemuka aliran sekterian itu memanfaatkan institusi hadits sebagai propaganda dan upaya membentuk umat dengan cara membuat hadits-hadits palsu.[21]

Fakta pemalsuan itu membangkitkan kesadaran Muhaditsin untuk melembagakan sanad sebagai alat kontrol periwayatan hadits sekaligus mencermati kecenderungan sikap keagamaan dan politik orang per-orang yang menjadi mata rantai riwayat itu. Dalam rangka mengimbangi pelembagaan sanad maka lahirlah kegiatan Jar wa-ta'dil[22]. Kegiatan Jarh wa-ta'dil menurut pengamatan al-Dzahabi (w. 784 h) telah melibatkan 715 kritikus.[23]Data itu cukup mengisyaratkan bahwa penalsuan hadits tak terbendung dan berlangsung dalam waktu yang lama (21 generasi) serta bertempat di banyak daerah.

Sekalipun Kritik sanad telah memperoleh perhatian yang besar di kalangan muhaddits generasi tabi'in, bukan berarti tradisi kritik matan di hentikan, bahkan penerapan metode mu'aradhah (pencocokan) semakin diperluas jangkauannya.

Sebagai bukti ketika Kuraib (seoarang murid Ibnu Abbas) membawa hadits tentang pembetulan posisi berdiri Abdullah bin Abbas berada di samping Nabi Saw saat makmum shalat malam di kediaman Maimunah, menurut penuturan Imam Muslim bin al-Hajaj (w 261 h) dalam al-Tamyiz telah di upayakan uji kebenaran redaksi matanya dengan melibatkan empat orang murid kuraib dan sembilan murid hadits Ibnu Abbas yang seangkatan masa belajarnya dengan kuraib.[24] Dari cara Mu'aradhah itu diperoleh kepastian bahwa Nabi Saw memposisikan sikap berdiri Ibnu Abbas selaku makmum tunggal di samping kanan badan Nabi Saw. Dengan hasil akhir seperti itu, ungkapan matan yang melalui Yazid bin Ali Zinad dari khuraib dinyatakan lemah (maghlub).

Demikian pula kritik asal makna (konsep ajaran) yang dikandung matan hadits makin berfariasi kaedah yang di terapkan. Perkembangan Kritik Matan Hadits bergerak melalui spesialisasi keilmuan dan kecenderungan pemikir hadits.[25]

Ulama hadits yang menekuni keahlian bahasa mencermati dan memperbandingkan bahasa (gaya bahasa) teks matan hadits yang bersifat Qauliy dengan ukuran bahasa tutur Nabi Saw dalam komunikasi sehari-hari yang dikenal sanggat fasih. Ulama Hadits denga spesialisasi pendalaman konsep doktrinal memperbandingkanya dengan konsep kandungan sesama hadits (sunah) dan dengan al-Quran. Kritik oleh muhadits yang membidangi akidah dan mutakalimin terfokus pada hadits-hadits bermateri sifat-sifat Allah dan materi alam gaib dengan kaedah menyikapi gejala kemuskilan.

Kritikus hadits generasi mutakhir sibuk merespon sikap keragu-raguan dalam memahami dan mengoperasionalkan ajaran hadits berhubung dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecenderungan bersikap kritis umat masa kini.[26]

D. Perhatian Ahli Hadits Tentang Kritik Matan

Di antara bukti adanya usaha pengembangan metodologi studi (kritik) matan hadis itu, terlihat dari terbitnya sejumlah buku. Misalnya, pada tahun 1983 penerbit Dar al-Afaq di Beirut menerbitkan buku karya Salah ad-Din al-Adlabi yang berjudul Manhaj Naqd al-Matn ‘inda al-Ulama’ al-Hadis an-Nabawi. Setahun kemudian yakni 1984 di Riyad terbit buku karya Musfir ‘Azm Allah ad-Dumaini yang berjudul Maqayis Naqd al-Mutun as-Sunnah. Tahun 1986 di Tunis, Muassasat Abdul Karim bin ‘Abd Allah menerbitkan buku karya Muhamad Tahir al-Jawabi yang berjudul Juhud al-Muhaddisin fi Naqd al-Mutun al-Hadis an-Nabawi asy-Syarif. Dan tahun 1989 al-Ma’had al-Islami li al-Fikr al-Islmi, yang berkedudukan di Amerika menerbitkan buku karya Yusuf al-Qardawi yang berjudul Kaifa Nata’amalu ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah.[27]

Dalam karya-karya tersebut di atas mereka telah berusaha merumuskan metode studi (kritik) matan hadis, dalam konteks ini term kritik dimaksudkan tidak sekedar seleksi atau koreksi teks/matan hadis, tetapi juga pada aspek interpretasi atau pemaknaan teks/matan hadis.

Kritik matan hadis dalam pengertianya adalah melakukan seleksi dan koreksi terhadap berbagai naskah kitab hadis sampai sekarang masih banyak dipraktikkan, dengan model-model yang semakin bagus. Upaya kritik matan yang dapat dikategorikan dalam konteks ini, misalnya terlihat dari banyaknya kitab-kitab kumpulan hadis yang diterbitkan setelah dilakukan penelitian berupa koreksi tahqiq[28] atau tadbit, pada umumnya dengan memberikan komentar singkat dalam catatan kaki dan terkadang memberikan takhrij[29] al-hadis-nya.

Misalnya, kritik teks yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi, dosen mata kuliah ushul al-fiqh di Fakultas Syari’ah Kairo, terhadap kitab an-Nasikh wa al-Mansukh min al-Hadits karya Abu Hafs Umar bin Ahmad bin Syahin al-Bagdadi (w. 385 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Syahin dan kitab Ikhbar Ahl ar-Rusukh fi al-Fiqh wa at-Tahdits bi Miqdar al-Mansukh min al-Hadits karya Imam Abu al-Faraj Abd ar-Rahman bin al-Jauzi (w. 597 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Jauzi. Atau kritik yang dilakukan oleh Dr. Mustafa al-A’zami terhadap naskah/teks kitab himpunan hadis Sahih Ibn Khuzaimah.

E. Metode Apresiatif Untuk mendeteksi Matan Hadits

Dilihat dari objek kritiknya, model kritik teks/matan hadis Nabi dapat dibagi menjadi dua macam :

1. kritik matan pra kodifikasi “semua” hadis, dalam kitab-kitab hadis. Dan

2. kritik matan pasca kodifikasi “semua” hadis.

Untuk kritik matan hadis model pertama pernah dilakukan oleh sejumlah sahabat Nabi dan sejumlah ulama kritikus hadis. Karena perbedaan keadaannya, tentu saja model pertama ini tidak dapat sepenuhnya dilakukan oleh para kritikus hadis pasca kodifikasi, termasuk zaman sekarang, apalagi rentang waktunya sudah sangat jauh. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan sebagian metode atau teknik yang pernah diterapkan dalam kritik teks/matan hadis pra kodifikasi hadis, dapat diaplikasikan untuk kritik matan pasca kodifikasi hadis.

Pengklasifikasian ini diperlukan karena memiliki implikasi terhadap metode atau teknik kritik matan hadis. Berikut ini akan diuraikan metode kritik matan-matan hadis pra kodifikasi dan pasca kodifikasi.

a. Metode Kritik Matan Hadits prakodifikasi.

Dari berbagai teknik dalam kritik matan hadis periode ini secara umum dapat dikategorikan memakai metode perbandingan (comparative). Di antara teknik-teknik perbandingan yang tercatat pernah dipraktikkan adalah dengan teknik sebagai berikut:

1. Membandingkan matan hadis dengan ayat al-Qur’an yang berkaitan.

Teknik ini kerap kali dilakukan oleh sejumlah sahabat Nabi. Umar bin Khattab misalnya, ia pernah mempertanyakan dan kemudian menolak hadis yang diriwayatkan oleh Fatimah bin Qais yang menyatakan bahwa wanita yang dicerai tidak berhak menerima uang nafkah (dari mantan suaminya). Menurut Umar (matan) hadis tersebut, bila dibandingkan tidak sejalan dengan bunyi ayat al-Qur'an.[30]

2. Membandingkan (matan-matan) hadis dalam dokumen tertulis dengan hadis-hadis yang disampaikan dari hafalan.[31]

Imam Bukhari (w. 256 H=870 M) pernah melakukan teknik ini pada saat menghadapi matan hadis tentang mengangkat tangan ketika akan ruku dalam shalat, yang diriwayatkan oleh Sufyan melalui Ibnu Mas’ud. Setelah membandingkannya, Bukhari memutuskan untuk memilih hadis yang diriwayatkan oleh Yahya bin Adam yang teleh mengeceknya dari kitab ‘Abdullah bin Idris (dalam versi tulisan), dan pada matan tersebut tidak memuat redaksi yang mengundang perselisihan.

3. Perbandingan antara pernyataan dari seorang periwayat yang disampaikan pada waktu yang berlainan.

Teknik perbandingan ini pernah dipraktikkan oleh ‘Aisyah salah seorang istri nabi. Aisyah pernah meminta keponakannya, yaitu ‘Urwah bin Zubair untuk menanyakan sebuah hadis, yaitu tentang ilmu dan dihilangkannya ilmu dari dunia, kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As (w. 65 H=685 M) yang tengah menunaikan ibadah haji. ‘Abdullah pun menyampaikan hadis yang ditanyakan itu. Karena Aisyah merasa tidak puas, tahun berikutnya, ia meminta Urwah kembali menemui Abdullah yang naik haji lagi dan menanyakan hadis yang telah ditanyakannya setahun yang lalu. Ternyata lafal hadis yang disampaikan oleh Abdullah sama persis dengan lafal yang disampaikannya setahun yang lalu.[32]

4. Membandingkan hadis-hadis dari beberapa murid yang mereka terima dari satu guru.

Teknik ini misalnya dipraktikkan oleh (Yahya) Ibnu Ma’in (w.233 H=848 M) salah seorang ulama kritikus hadis terkemuka. Ia pernah membandingkan karya Hammad bin Salamah (w. 167 H=784 M) seorang kritikus terkenal dari Basrah, dengan cara menemui dan mencermati tulisan delapan belas orang murid Hammad. Dari hasil perbandingan tersebut ternyata Ibnu Ma’in menemukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Hammad maupun murid-muridnya.

5. Melakukan rujuk silang antara satu periwayat dengan periwayat lainnya.

Teknik ini pernah dilakukan oleh Marwan bin Hakam. Peristiwanya bermula tatkala Marwan menerima hadis yang disampaikan oleh ‘Abd ar-Rahman bin al-Mugirah bin Hisyam bin al-Mugirah yang bersumber dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. Ketika waktu fajar (salat Subuh) beliau dalam keadaan berhadas besar (karena pada malam harinya bersenggama dengan istri beliau). Kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa (pada hari itu). Mendengar hadis tersebut, Marwan segera menyuruh ‘Abd ar-Rahman menemui Abu Hurairah, karena Abu Hurairah pernah meriwayatkan hadis yang menyatakan bahwa apabila sesorang pada waktu Subuh masih dalam keadaan berhadas besar karena pada malam harinya bersenggama dengan istrinya, maka Nabi menyuruh orang tersebut membuka puasanya. ‘Abd ar-Rahman menemui Abu Hurairah di Zulhulaifah, dan menyampaikan kepadanya hadis yang diriwayatkan melalui Aisyah dan Ummu Salah (tersebut di atas). Pada saat itu Abu Hurairah menjelaskan bahwa ia menerima hadis tersebut tidak langsung dari Nabi, melainkan dari al-Fadl bin ‘Abbas, sehingga menurut Abu Hurairah Fadl lah yang lebih mengetahui hadis tersebut.[33]

b. Metode kritik matan hadis pasca kodifikasi.

Seperti halnya kritik matan hadis pra kodifikasi, untuk kritik matan pasca kodifikasi pun metode perbandingan tetap masih dominan dan relevan, hanya saja teknik-tekniknya perlu disesuaikan sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Secara rinci, dapat diuraikan bahwa teknik kritik matan pada fase ini, termasuk zaman sekarang, dapat dilakukan antara lain dengan teknik sebagai berikut:

1. Membandingkan matan-matan hadis dengan ayat al-Qur’an yang terkait atau memiliki kedekatan susunan redaksi.

Dalam teknik ini sesungguhnya tidak lagi sekedar kritik perbandingan teks, tetapi perlu melibatkan aspek pemahaman atau pemaknaan teks. Membandingkan teks atau matan-matan hadis dengan ayat-ayat al-Qur'an dari susunan redaksi adalah kurang proposional, karena redaksi atau lafal-lafal al-Qur'an diriwayatkan secara mutawatir, sedangkan matan-matan hadis hampir seluruhnya diriwayatkan menurut maknanya saja (riwayah bi al-ma’na). Namun demikian, perbandingan teks ini bukanlah hal yang mustahil dilakuan, dan analisis perbandingan matan-matan hadis dengan al-Qur'an tetap membantu proses kritik, misalnya ketika terjadi perbandingan matan-matan hadis yang semakna dengan redaksi yang berbeda, sementara terdapat ayat al-Qur'an yang memiliki kemiripan (susunan redaksinya). Dalam konteks ini jelaslah bahwa keakuratan dalam penujukan ayat yang menjadi pembandingnya merupakan prasyarat untuk dapat melakukan kritik matan hadis melalui ayat al-Qur'an.

2. Membandingkan antara matan-matan hadis.

Agar dapat melakukan kritik matan hadis dengan teknik ini, hendaknya didahului dengan langkah pertama yaitu menghimpun matan-matan hadis. Untuk itulah penelusuran hadis-hadis (secara lengkap sanad dan matannya) kepada sumber-sumber aslinya yang dikenal dengan istilah takhrij al-hadis, dalam tahap ini sangatlah diperlukan.

Teknik-teknik perbandingan atau yang lainnya untuk melakukan kritik matan, dapat terus dikembangkan. Dan hal ini bisa dilakukan dengan terus melakukan latihan atau praktik.

F. Kesimpulan

Dari uraian di atas, perlu ditegaskan kembali bahwa kritik matan hadis merupakan bagian yang sangat penting dan integral dalam proses studi (matan) hadis. Secara praktis, kritik ini memang telah ada sejak para sahabat Nabi, dan dilanjutkan oleh para kritikus hadis terutama pra kodifikasi hadis.

Kesahihan yang berhasil diseleksi dalam kegiatan kritik matan tahap pertama baru sampai pada tahap menyatakan kesahihan matan menurut eksistensinya. Pada tahap ini belum sampai pada pemaknaan matan hadis, kendatipun unsur-unsur interpretasi matan boleh jadi ada terutama jika menyeleksi matan dengan cara melihat tolok ukur kesahihan matan hadis.[34]

Bila terdapat matan-matan hadis yang sangat rumit dikritik atau diseleksi berkaitan dengan pemaknaannya, maka hal tersebut “diserahkan” kepada studi matan hadis tahap kedua yang menangani interpretasi atau pemaknaan matan hadis (ma’na al-hadits).[35]

Dan saat ini matan-matan hadis telah terkodifikasikan, tetapi masih belum terumuskan kaidah-kaidah atau metode kritik matan. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan bagian dari usaha untuk mengembangkan studi kritik matan hadis dari aspek motodenya.

Daftar Pustaka

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud (Mesir : Maktabah Tijariah Kubro) th 1951. indeks hadits 5184

Khudlari Byk, Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Mesir: Dar Ihya' al-Kutub) Th 1964, hlm 113

Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) th 2004

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fath al-Bari bi Syarh Sahih al-Bukhari. Juz III dan IV. Diberi nomor oleh Muhamad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, dan dikoreksi oleh Muhibuddin al-Khatib. t.k.: Maktabah as-Salafiyah, t.t.

Atar Semi, Kritik Sastra (Bandung: Angkasa) th. 1987

Azami, Muhammad Musthafa. Metodologi Kritik Hadis. Terj. A. Yamin. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992.

CD (Compact Disk) Mausu’ah al-Hadis\ asy-Syarif .

http://elkhalil.multiply.com/journal/item/28

http://kafilahcinta.roomforum.com/al-hadist-f3/arti-sanad-dan-matan-hadis-t9.htm

http://mandicahaya.blogspot.com/2009/02/study-matan-hadis.html

http://myislam.blogspot.com/2007/01/kritik-matan-hadist-shahih-bukhari-vs.html

http://opi.110mb.com/haditsweb/pendahuluan/sanad_dan_matan.htm

http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/09/proses-dan-prosedur-penelitian-matan.html

http://www.cybermq.com/pustaka/detail//98/ulumul-hadis-hadis-ar--ulum-al-hadls

http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1204143059

Ismail, M. Syuhudi. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Jakarta: Bulan Bintang, 1988.



[3] Kata "kritik" berkonotasi pengertian bersifat tidak lekas percaya, tajam dalam penganalisaan, ada uraian baik buruk terhadap suatu karya. ( Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) hlm. 466

[4] Atar Semi, Kritik Sastra (Bandung: Angkasa, 1987) hlm.7.

[6] Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm. 10

[7] Al-Jawabi, juhud al-Muhaditsin, hlm 94

[10] ciri-ciri yang telah ditetapkan antara lain : Apabila susunan bahasanya rancu, isinya bertentangan dengan akal yang sehat dan sangat sulit diinterpretasikan secara rasional, isinya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam, isinya bertentangan dengan hukum alam (sunnatullah), isinya bertentangan dengan sejarah, isinya bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an atau hadis mutawatir yang telah mengandung petunjuk secara pasti, isinya berada di luar kewajaran bila diukur dari petunjuk ajaran Islam.(http://mandicahaya.blogspot.com/2009/02/study-matan-hadis.html)

[11] Setelah Nabi wafat (11 H=632 M), tradisi kritik hadis dilanjutkan oleh para sahabat. Pada periode ini, tercatat sejumlah sahabat perintis dalam bidang ini, yaitu Abu Bakar as-Siddiq (w. 13 H=634 M), yang diikuti oleh Umar bin Khattab (w. 234 H=644 M) dan Ali bin Abi Thalib (w. 40 H=661 M). Sahabat-sahabat lain yang dikenal pernah melakukan kritik hadis, misalnya ‘Aisyah (w. 58 H=678 M) istri Nabi, dan ‘Abd Allah bin ‘Umar bin al-Khattab (w. 73 H=687 M) Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm 27

[12] M.M. al-Azhami, Manhaj al-Naqd, Hlm 10-11 dan al-Jawabi, Juhud al- Muhadditsin, hlm 103

[13] Abu Dawud, Sunan Abi Dawud (Mesir : Maktabah Tijariah Kubro) th 1951. indeks hadits 5184

[14] Khudlari Byk, Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Mesir: Dar Ihya' al-Kutub) Th 1964, hlm 113

[15] Muqaranah : perbandingan antar sesama riwayat dari sesama sahabat. Pola Muqaranah antar riwayat ini kelak menyerupai praktik iktibar guna mendapatkan data syahid al-Hadits agar asumsi kemandirian sahabat periwayat hadits bisa dibuktikan

[16] Metode Mu'aradhah adalah pencocokan konsep yang menjadi muatan pokok setiap matan hadits, agar tetap terpelihara keselarasan antar dalil syari'at dengan Hadits.

[17] MM. Al-A'zami, Manhaj al-Naqd, hlm 59

[18] Abu Dawud ,Sunan Abi Dawud, no. Indeks 2284 & 2290.

[19] Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm 30-33

[20] http://elkhalil.multiply.com/journal/item/28

[21] Hasjim Abbas. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm 34

[22] mencermati kecacatan pribadi perawi dan keterpujianya.

[23] Al-Jawabi, Juhud al-Muhadditsin, hlm 144

[24] MM. Al-A'zami, Manhaj al-Naqd, hlm 183-184

[25] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, hlm. 122

[26] Apabila pada periode sahabat kritik matan hadits dilakukan semata-mata guna memperoleh kemantapan pemberitaan, maka pada pasca fitnah, segala langkah metologis kritik sanad dan matan di orentasikan pada maksud dan tujuan pemikiran maqbul (diterima sebagai hujjah ) atau harus Mardud / ditolak. Hasjim Abbas. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm 37)

[28] Kata tahqiq ini memiliki dua pengertian yang pertama berma'na melihat sejauh mana kebenaran yang terkandung di dalam sebuah teks, yang kedua berma'na sebuah Ilmu yang mempelajari seluk beluk teks pada karya –karya peninggalan klasik

[29] Takhrij = Penelusuran atau pencarian hadits dalam berbagai kitab hadits.

[30] Demikian juga ‘Aisyah, dalam beberapa kasus ia pernah mengkritik sejumlah (matan) hadis yang disampaikan (diriwayatkan) oleh sahabat lainnya yang menurut pemahamannya tidak sejalan dengan kandungan ayat al-Qur'an. Sebagai contoh beliau mengkritik hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan ibnu ‘Umar yang menyatakan bahwa orang yang meninggal dunia akan disiksa karena ratapan tangis keluarganya. Menurut ‘Aisyah hadis tersebut tidak sejalan dengan al-Qur'an. http://elkhalil.multiply.com/journal/item/28

[31] Dalam teknik ini apabila ada perbedaan antara versi tulisan dengan versi lisan, para ulama biasanya lebih memilih versi tulisan dari pada versi lisan, karena dianggap lebih kuat (ahfaz).

[32] Hal yang serupa juga pernah dilakukan oleh Marwan bin Hakam (w. 65 H= 685 M) yang pada saat itu sedang menjabat sebagai gubernur Madinah. Ia mengundang Abu Hurairah (w. 58 H=678M) untuk menyampaikan hadis yang pernah disampaikan beberapa waktu sebelumnya http://elkhalil.multiply.com/journal/item/28

[33] Jadi, dapat dinyatakan bahwa metode kritik model pertama ini lebih merupakan pengalaman sejarah, karena hadis-hadis Nabi sekarang ini telah dikodifikasikan. Namun demikian, sebagian metodenya, masih ada yang relevan untuk diterapkan terhadap model kedua dengan adanya modifikasi.

Pengikut