Minggu, 26 April 2009

Apa sih yang dimaksud wasilah itu..?

Pendahuluan.
Bila kita berbicara mengenai Wasilah tentunya dalam fikiran kita akan muncul beberapa istilah yang semakna dengan lafadz wasilah tersebut misalnya, tawassul, istisyfa', istighatsah, dll.
Para Ulama seperti al-Imam al-Hafidz taqiyyudin al-Subki menegaskan bahwasanya mereka mendefinisikan wasilah memiliki makna hakikat yang sama dengan tawassul, istisyfa', istighatsah, dll. Dengan definisi sebagi berikut :
طلب حصول منفعة أو اندفاع مضرة من الله بذكر اسم نبي أو ولي إكراما للمتوسل به (الحافط العبدري, الشرح الريم, ص 378)
"Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan)kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi dan wali untuk memuliakan (ikhram) keduanya".
Sebagian kalangan memiliki persepsi bahwa wasilah seperti yang terdapat pada ta'rif diatas, yaitu mengunakan nabi atau wali sebagai wasilah (perantara) untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki. Persepsi yang keliru tentang wasilah ini kemudian mereka gunakan sebai argument menuduh kafir atau musrik orang-orang yang bertawassul atau yang berwasilah.[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm4-5]
Padahal hakikat tawassul dikalangan para pelakunya bukanlah demikian melainkan memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya dari bahaya (keburukan) dengan cara mengunakan wasilah (perantara) seorang nabi atau wali dengan cara menyebut nama nabi atau wali tersebut untuk memuliakannya sebagai seorang hamba yang dicintai oleh Allah.
Berdasarkan dari perbedaan Pemahaman tersebut di sini penulis mencoba meluruskan pemahaman yang kurang benar mengenai wasilah, dan berikut beserta tafsir ayat-ayat yang digunakan sebagai argument dari wasilah dan lafadz lain yang semakna dengan wasilah.

B. Penafsiran Surah al-Maidah ayat 35

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanyaNya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Melalui ayat ini Allah mengajak semua pihak yang beriman bahkan boleh jadi lebih dikhususkan kepada para pelaku kejahatan yang dibicarakan oleh ayat yang sebelumnya agar mereka bertaqwa dan mencari jalan mendekatkan diri kepadaNya.
Kata وسيلةwasilah mirip maknanya dengan وصيلة washilah yakni "sesuatu yang menyambung sesuatu dengan yang lain". Sedangkan wasilah adalah "sesuatu yang menyambung dan mendekatkan sesuatu dengan yang lain, atas dasar keinginan yang kuat untuk mendekat". Tentu saja banyak cara yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada ridha Allah[ Ayat ini (dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya). Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artinya carilah sebab-sebab itu maka Allah akan mewujudkan akibatnya. Namun harus di ketahui bahwa jalan tersebut haruslah yang disukai oleh Allah SWT. Mahrus Ali, Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm 4-5 ], namun kesemua haruslah yang dibenarkan oleh-Nya. Ini bermula dari rasa kebutuhan kepadaNya. Demikian Ibn Abbas menafsirkan memang jika sesorang merasakan kebutuhan kepada sesuatu, dia akan menempuh segala cara untuk meraih ridhonya serta menyenangkannya. Demikian juga seharusnya bila kita ingin dekat kepada Allah SWT.
Dalam satu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW bersabda : "sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali-Ku ( orang yang dekat dengan-Ku) maka sesungguhya Aku telah menyatakan perang baginya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku senangi dari pada melaksanakan apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan tidak pula hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku mencintainya menjadilah Aku telinganya dan ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang dengannya ia menghajar, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Apabila ia bermohon kepada-Ku maka pasti Ku-kabulkan pemohonannya, apabila ia meminta perlindungan-Ku maka pasti ia Ku-lindungi".[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 114]
Ayat ini dijadikan oleh sebagian ulama' sebagi dalil dari diperbolehkanya tawassul yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama Nabi SAW. atau para wali/orang-orang yang dekat kepada-Nya, yakni berdo'a kepada Allah guna meraih harapan melalui kecintaan Allah kepada kekasih-kekasihnya para Nabi atau para wali. Orang-orang yang menganggap musrik dan mengkafirkan orang-orang yang bertawassul. Tentu saja bila dia percaya bahwa sang wali memberinya apa yang tidak diizinkan Allah atau apa yang tidak wajar diperolehnya, maka hal ini terlarang. Tetapi jika ia bermohon kepada Allah berdasarkan oleh kecintaannya kepada siapa yang ia yakini lebih dekat kepada Allah dari dirinya, maka ketika itu cintanyalah yang berperanan bermohon, dan dalam saat yang sama dia yakin tidak akan memperoleh dari Allah sesuatu yang tidak wajar diperolehnya.
Mutawalli asy-Sya'rawi, ulama Mesir kontemporer telah menjelaskan perihal wasilah atau tawassul dengan mengemukakan satu riwayat yang juga sering dikemukakan oleh ulama' yang membenarkan wasilah atau tawassul. Riwayat yang dimaksud dikemukakan oleh Imam Muslm, Abu Dawd, at-Tirmidzi, dan an Anas'i bahwa Umar ibnu al-Khattahb berkata: " pada masa Nabi SAW., jika kami kekeringan karena hujan tidak turun, kami bertawasul dengan ( menyebut nama) nabi kiranya hujan turun. Setelah Nabi Saw wafat kami bertawassul dengan menyebut nama al-Abbas, paman Nabi SAW."

C. Penafsiran Surah al-Isra' ayat 57

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka* siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
* Maksudnya: nabi Isa a.s., para malaikat dan 'Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.[ Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0]
Lafadz ( orang-orang yang mereka seru) yang dimaksud lafadz ini yakni orang-orang yang berakal yang menyangka bahwa diri mereka dekat dengan Tuhan mereka, dengan mencari kedekatan dengan sebab ketaatan mereka dan merendahkan diri kepada tuhanya dan mengharap rahmat Allah dan takut kepada sikisa Allah, tetapi sesungguhnya orang-orang yang lebih dekat diantara mereka adalah orang yang lebih merendahkan diri dan takut kepada Allah dan mereka tidak ridha dengan keadaan mereka sebagai hamba dari selain Allah.[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325]
Lafadz yang artinya mencari yang dimaksudkan dalam lafadz ini adalah mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan cara taat.[ Ibid. hlm: 326]
Siapa-siapa yang mereka seru untuk mencari pertolongan dan yang mereka sembah itu (seperti malaikat) Isaa, Uzair dan lain-lain, mereka itu sendiri dengan sungguh-sungguh mencari jalan menuju ke ridha Tuhan mereka berupaya agar menjadi lebih dekat kepada Allah dan mereka semua juga selalu mengharapkan Rahmat-Nya dan senantiasa takut akan siksa-Nya sesungguhya siksa tuhanmu adalah sesuatu yang harus diwaspadai karena demikian itulah sikap hamba-hamba-Nya yang dekat apalagi kamu- wahai yang bergelimang dalam kedurhakaan.[ M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan kesan dan keserasianal-Quran (Jakarta: Lentera Hati) hlm 18]
Firman-Nya : ayyuhum aqrabu, dapat juga di pahami dalam arti masing-masing hendak mengetahui jawaban "siapakah di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah." Atau mereka melakukan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah . Dan karena itu mereka mempertanyakan jalan manakah yang terdekat agar mwereka dapat menmpuh jalan itu guna meraih kedekatan kepada Allah.[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325]
Apapun pendapat yang anda pilih, yang jelas ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang dipertuhankan itu, tidak wajar dipertuhan karena mereka juga butuh kepada Allah lagi tidak dapat melepaskan diri darinya. Bahkan berlomba mendekatkan diri kepadanya. Memang boleh jadi mereka dapat melakukan sesuatu, tetapi kemampuan itu mereka peroleh dari Allah SWT.
Sebagai seorang muslim yang memiliki keimanan yang kuat janganlah berasumsi bahwa kaum muslimin pun seringkali berdo'a kepada Allah, tetapi tidak dikabulakan do'anya, sehingga dengan demikian keadaan mereka sama saja dengan keadaan orang-orang kafir itu. Untuk menjawab pertanyaan semacam ini terlebih dahulu perlu diketahui bahwa tidak ditemukan pernyataan dari tuhan-tuhan yang mereka sembah itu, bahwa mereka menjamin pengabulam do'a siapa yang menyembahnya, para penyembahnya pun sadar tentang hal ini, terbukti jika mereka dalam kesulitan, mereka memohon kepada Allah SWT. Bukan kepada siapa yang mereka sembah itu antara lain, sebagaiman yang telah tercantum dalam ayat 67 berikut ini.

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.[ Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0]
Ini berbeda dengan yang berdo'a kepada Allah SWT. Berkali-kali Allah menjamin pengabulan Do'anya. Selanjutnya perlu di inggat bahwa pengabulan do'a yang dijamin itu mempunyai syarat-syarat tertentu yang bila tidak terpenuhi maka do'a itu tifdak akan terkabul seperti ditegaskan dalam firmanya :[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm5-7]


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa ada orang yang merasa telah berdo'a, tetapi Allah belum menilainya sebagai suatu do'a, untuk jelasnya merujuk kepada penafsiran ayat dari surah al-Baqarah itu !. di sisi lain, pengabulan do'a berkaitan juga dengan kemaslahatan si pemohon, sehingga boleh jadi apa yang dimohonkan di tunda pengabulanyaatau dig anti dengan yang lain yang lebih bermanfaat untuk si pemohon.[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm 7]

E. Pembahasan Mengenai Wasilah.
Dalam kamus al Munjid menyebutkan: اَلْوَسِيْلَةُ ماَ يَتَقَرَّبُ اِلىَ الْغَيْرِ
Wasilah menurut bahasa ialah sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain
Dalam kamus: اَلْوَسِيْلَةُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ الْمُلْكِ
Wasilah suatu kedudukan di sisi raja
Ibnu Kasir dalam menafsirkan surat al Maidah ayat 35 menyebutkan,
اَلْوَسِيْلَةُ هِيَ الَّتِى يَتَوَصَّلُ بِهَا اِلَى تَحْصِيْلُ الْمَقْصُوْدِ
Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan kepada tercapainya tujuannya.
Menurut satu riwayat dari Ibnu Abbas, arti wasilah di sana adalah hajat kepada-Nya. Jadi maknanya adalah carilah hajat kepada Allah.[ Prof. DR. H. Kadirun Yahya menafsirkan surat al Maidah ayat 35 bahwa, Wasilah itu adalah channel dan frekuensi yang membawa mereka yang beriman dan takwa tersebut di atas langsung ke hadirat Allah Swt, dan jika mereka bersungguh-sungguh di atas jalan itu mereka akan menang dunia akhirat. http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/

]
Dalam tafsir Futuhul Ilahiah disebutkan bahwa wasilah adalah : Sesuatu yang mendekatkan kamu kepada-Nya, dengan mentaati-Nya.[ Dari keterangan tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa, wasilah itu adalah suatu jalan / cara yang harus kita tempuh agar kita dapat bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah Swt. http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/
]
Dalam ayat tadi kita disuruh mencari sesuatu. Yang namanya mencari sesuatu, pasti sesuatu itu sudah ada. Kita disuruh mencari agar kita dapat menemukan sesuatu yang sudah ada. Sesuatu yang sudah ada itulah yang dapat menjadi saluran amal kita hingga sampai kehadirat Allah Swt.
Menurut Prof. DR. Kadirun Yahya dalam beberapa penjelasan beliau, bahwa wasilah itu bukan orang, bukan ruh tapi sesuatu (QS. al Maidah : 35), yang ada pada Arwahul muqaddasah Rasulullah Saw, yang datang dan tersalur langsung dari Allah Swt. Inilah yang mempunyai dimensi, power, kekuatan tak terhingga (∽). Inilah yang memberi kekuatan dan berbekas langsung kepada amal-amal shalihat kita. Inilah yang dinamakan channel dan frekwensi yang tak terhingga, yang langsung menuju kehadirat Allah Swt, yang dimensinya tak terhingga itu. Keberadaan Nabi Muhammad dan Khalifah-Khalifahnya merupakan anugerah atau rahmat dan penyelamat bagi orang-orang sedunia. Beliau adalah wasilah untuk itu.
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Dan tidak Kami utus engkau wahai Muhammad, kecuali pembawa rahmat bagi alam semesta.
Dan tidak engkau yang melontar ketika engkau melontar, tapi Allahlah yang melontar. (QS. al Anfal : 17)
Maka Rasulullah adalah sebagai wasilah carrier, pembawa wasilah yang menyalurkan rahmat bagi alam semesta, yang menyalurkan lontaran untuk menghantam kuffar Quraisy dalam peperangan Khandaq. Yang punya rahmat dan yang melakukan lontaran sesungguhnya adalah Allah Swt. Yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan dilakukan oleh Rasulullah Saw, yaitu menyebar rahmat dan melakukan lontaran adalah bersifat Nisbi, tapi yang hakikinya adalah Allah Swt. Inilah yang dimaksud dengan datang dan tersalur langsung dari Allah Swt.
3. Macam-Macam Wasilah
a. Wasilah yang dilarang
Adapun wasilah yang dilarang adalah berwasilah dengan berhala atau patung-patung seperti yang dilakukan oleh orang kafir musyrik, sebagaimana yang termaktub dalam surat az Zumar ayat 3.[ Menurut asbabun nuzul, ayat ini berkenaan dengan tiga suku bangsawan; Amir, Kinanah dan Bani Salamah yang menyembah berhala, yang mereka mengatakan bahwa persembahan terhadap berhala itu adalah untuk menghampirkan diri kepada Allah Swt. Kenyataannya mereka benar-benar menyembah berhala, yang mereka yakini berhala itu dapat memberikan manfaat dan ataupun mudarat. Karena itu Allah tegaskan di akhir ayat, bahwa perkataan mereka itu adalah perkataan bohong lagi kafir, Allah Swt tidak akan memberikan hidayah kepadanya.
]
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah yang sedekat-dekatnya.
Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. az Zumar : 3)

Orang-orang yang berpendapat tidak boleh berwasilah adalah mengikuti jalan pikiran Ibnu Taimiyah dengan memakai dalil surat az Zumar ayat 3 ini. Jalan pikiran Ibnu Taimiyah ini diambil over para orientalis, kemudian ditulis dalam bahasa Arab dan tulisan-tulisan itu disebarluaskan ke Jaziratul Arab, untuk selanjutnya dari Jaziratul Arab disebarluaskan ke negara-negara Islam lainnya. Jalan pikiran Ibnu Taimiyah dan orientalis inilah akhirnya mempengaruhi pendapat Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Dinasti Wahabi 500 tahun kemudian. Dinasti Wahabi-lah yang menghancurkan rumah-rumah suluk di Jabal Qubis dan tempat-tempat lainnya dan menganggap syirik orang-orang yang berziarah ke kuburan Nabi Saw dan kuburan wali-wali, dengan berseru atau memanggil “Wahai Rasulullah Saw, kami mohon syafaatmu.”[ Buku-buku Wahabiyah inilah yang banyak berkembang ke negara-negara Islam / rakyatnya sebagian besar beragama Islam termasuk ke Indonesia, yang dampaknya sangat berpengaruh kepada jalan pikiran orang-orang Islam. Saudara kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab, bernama Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, menolak pendapat pemimpin golongan Wahabi itu, dengan menerbitkan sebuah kitab berjudul ash Showa’iku al Ilahiyah fi al Rodi ‘ala al Wahabiyah. http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/

]
Selain dari dua tokoh ulama itu, masih banyak lagi ulama terkemuka lainnya dari empat mazhab yang menyangkal pendapat Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tersebut, dan bahkan ada yang menganggap Ibnu Taimiyah berpengetahuan dalam, tetapi berakal pendek, sesat dan menyesatkan orang banyak. Sayyid Zaini Dahan, Mufti Mazhab Syafi’i di Mekkah, dalam kitabnya, Kholasoh al kalami fi bayani umaro’il baladi al haromi dengan tegas mengecam dan menolak keras pendapat golongan Wahabi tersebut, dengan mengemukakan dalil dan alasan, ayat, hadits, pendapat ulama salaf dan ulama khalaf, dan pendapat imam mazhab yang empat.
b. Wasilah yang diperbolehkan
Wasilah yang disyaratkan adalah semua bentuk wasilah yang disunatkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya serta dianjurkan supaya kita mengamalkannya.
1. Di dalam al Qur’anul Karim terdapat beberapa ayat yang menyuruh kita berwasilah, antara lain: dalam surat al A’raf : 88-89; 155-156 dan 180, surat Ibrahim : 38-41, surat as Syuara : 75-85
2. Al Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya, Dalail al Nubuwah pada waktu menafsirkan surat al Baqarah ayat 37
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al Baqarah : 37)
Bahwa Adam pun sebagai bapak manusia berwasilah kepada Nabi Muhammad Saw sebelum lahir, untuk diterima taubatnya, karena ia telah melanggar perintah Allah yaitu supaya tidak memakan buah khuldi sewaktu ia dengan istrinya berada di surga. Karena melanggar larangan itulah mereka dikeluarkan dari surga. Ia mengakui segala kesalahannya di hadapan Allah.
لَمَّا اقْتَرَفَ اَدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ يَا رَبِّ أَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ اِلاَّ غَفَرْتَ لِى فَقَالَ الله ُتَعَالَى يَا اَدَمَ كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ اَخْلُقْهُ قَالَ يَا رَبِّ لَمَّا خَلَقْتَنِى رَفَعْتُ رَأْسِى فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوْباً لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَعْلِمْتُ اَنَّكَ لَمْ تَضِفْ اِلَى اَسْمَائِكَ اِلاَّ اَحَبُّ الْخَلْقِ اِلَيْكَ فَقَالَ الله ُتَعَالَى صَدَقْتَ يَا اَدَمَ اِنَّهُ َلاَحَبُّ الْخَلْقِ اِلَيَّ وَاِذَا سَئَلْتَنِى بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلاَ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتَكَ فَهُوَ اَخِرُ اْلاَنْبِيَاءِ مِنْ ذُرِيَتِكَ
Tatkala nabi Adam mengakui kesalahannya, dia berkata “Wahai Tuhan, saya mohon kepada-Mu bihaqqi (dengan kebenaran) Muhammad Saw, ampunilah dosaku!.” Allah berfirman, “Adam, bagaimana mungkin anda mengenal Muhammad, padahal ia belum Ku-jadikan?” Adam menjawab, “Wahai Tuhan, sesungguhnya tatkala Engkau menciptakan aku, kuangkat kepalaku, maka kulihat di atas tiang-tiang Arasy bertulis لا اله الا الله محمد رسول الله mengertilah aku bahwa Engkau tidak menyandarkan sesuatu kepada nama-Mu, melainkan orang yang paling dikasihi makhluk.” Allah pun berfirman pula, “Benar anda Adam, sesungguhnya Muhammad Saw itu paling kasih sayang kepada-Ku. Apabila anda memohon dengan berkat kebenarannya, maka sesungguhnya Ku-ampuni dosamu. Dan kalaulah tidak karena Muhammad, tidaklah Ku-jadikan anda dan dia adalah nabi yang terakhir dari keturunanmu.” (HR. al Baihaqi, al Hakim dan at Thabrani)

3. Imam Malik bin Anas menyuruh kepada khalifah al Mansur agar memakai wasilah yang benar, yaitu ketika al Mansur mengerjakan haji dan menziarahi kuburan Nabi di Madinah. Al Mansur bertanya kepada Imam Malik yang kebetulan berada dalam masjid Nabawi itu, “Ke mana harus menghadap bila berdo’a, apakah menghadap kiblat atau menghadap kuburan Nabi Saw? “Imam Malik menjawab, “Kenapa anda memalingkan wajah anda daripadanya? Dialah wasilahmu dan dia pulalah wasilah bapakmu Adam kepada Allah Swt. Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaatnya, niscaya beliau akan mensyafaatimu.” Masalah ini dikuatkan dengan maksud surat an Nisa’ ayat 64.
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

4. Umar bin Khattab pada masanya pada waktu minta diturunkan hujan, ia berwasilah kepada Abbas bin Abdul Muthallib paman Rasulullah, kemudian Do’a Sayyidina Umar dikabulkan oleh Allah. Setelah selesai berdo’a, Umar berkata:Wahai umat manusia, Rasulullah Saw menganggap Abbas sebagai anak terhadap bapak. Maka ikutilah Beliau dalam hal pamannya Abbas. Dan jadikanlah ia (Abbas) wasilah kepada Allah Swt.

Sesungguhnya masih banyak lagi dalil-dalil al Qur’an maupun al Hadits ataupun perbuatan para sahabat yang melaksanakan amalan, do’a dengan berwasilah. Perbuatan dan ucapan para sahabat, khulafaurrosyidin menjadi hujjah dalam masalah hukum agama dan keagamaan. Sabda Rasulullah Saw:
اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ فَاِنَّهُمَا حَبْلُ اللهِ الْمَمْدُوْدُ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِمَا فَقَدْ تَمَسَّكَ بِالْعَرْوَةِ الْوثْقَى لانْفِصَامَ لَهَا
Ikutilah oleh kamu dua orang sesudahku Abu Bakar dan Umar. Sesungguhnya kedua orang tersebut adalah tali Allah yang dipanjangkan. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, niscaya dia berpegang teguh kepada tali yang kuat yang tidak akan terputus. (HR. Thabrani)
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ
Hendaklah kamu ikuti sunahku dan sunah khulafaurrosyidin yang selalu mendapat hidayah dari Allah. (al Hadits)

Sikap Sayyidina Umar berwasilah kepada Sayyidina Abbas untuk meminta hujan, tidak kepada Nabi Saw adalah untuk menegaskan kepada umat bahwa berwasilah kepada selain Nabi Saw hukumnya boleh dan disyaratkan tiada cacat cela padanya. Jika Sayyidina Umar berwasilah kepada Nabi Saw, tentu orang banyak akan berpendapat tidak boleh berwasilah kepada selain Nabi Saw. Sedangkan berwasilah kepada Nabi Saw waktu itu sudah dikenal dan umum
4. Burraq Adalah Wasilah Menuju Tuhan
“Orang sering kali dibodoh-bodohi oleh orang Yahudi yang menggambarkan Burraq seperti kuda” kata Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi (Mursyid Thareqat Naqsyabandiah Al-Kalidiah Aminiah Ahli Silsilah ke-36,) bahwa gambaran Burraq nabi yang dikendarai Beliau ketika berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit tujuh adalah berwujud binatang seperti kuda tapi lebih kecil, berkepala manusia kecepatannya satu langkah bisa menempuh jarak sejauh mata memandang. Kemudian gambaran nabi itu dibentuk ke dalam gambar realistis, yang dipajang di dinding. Anak-anak orang awam menangkap kesan seperti gambaran binatang tersebut.
Kalau itu di tuju, oleh ayat dan surat al Isra’, maka terbentuk kesan bahwa hanya nabi saja yang mampu mengadakan perjalanan cepat di muka bumi dan naik ke langit dalam tempo cepat secepat kilat. Dan al Qur’an tersebut hanya menjadi cerita belaka, bukanlah sebagai hidayah bagi seluruh umat manusia, itu bila mana ayat al Qur’an hanya dipahami dari segi harfiahnya saja.[ http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/
]













F. Kesimpulan
Berdo’a dengan mengunakan wasilah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas telah disepakati mayoritas ulama bahwa telah disepakati kebolehannya. Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, nyatanya tetap memohon kepada Allah SWT karena Allah-lah tempat meminta dan harus diyakini bahwa sesungguhnya:[ http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9992
]
مَنَعْتَ لمِاَ مُعْطِى وَلاَ اَعْطَيْتَ لمالاَمَانَعَ
Tidak ada yang bisa mencegah terhadap apa yang Engkau (Allah) berikan, dan tidak ada yang bisa memberi sesuatu apabila Engkau (Allah) mencegahnya.
Secara psikologis wasilah / tawassul sangat membantu manusia dalam berdoa, bertawassul sama dengan meminta orang-orang yang dekat kepada Allah SWT itu agar mereka ikut memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita minta.
Tidak ada unsur-unsur syirik dalam bertawassul, karena pada saat bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para Nabi, para Rasul dan para shalihin, pada hakekatnya kita tidak bertawassul dengan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka yang shaleh.
Karenanya, tidak mungkin kita bertawassul dengan orang-orang yang ahli ma’siat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawassul dengan pohon, batu, gunung dan lain-lain.






Daftar Pustaka
Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325
http://ingkang-bangete-bodho.blog.friendster.com/2007/08/
http://muba-blogger.blogspot.com/2009/04/memaknai-pengobatan-ala-ponari.html
http://sufimuda.wordpress.com/2008/04/22/ber-wasilah-kepada-mursyid/
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9992
M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan kesan dan keserasianal-Quran (Jakarta: Lentera Hati)
Ridwan, Muhammad Asnawi, Membela Sunni (Kendal: Pustaka Amanah) th 2008
Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0
Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik" (Surabaya: Khalista) Th 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

"saran dan kritikan anda adalah kemajuan bagi kami"

Pengikut